SEARCH

Translate

Tampilkan postingan dengan label ISLAM. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label ISLAM. Tampilkan semua postingan

03/12/14

Khalwat



KHALWAT

Khalwat adalah seorang laki-laki berada bersama perempuan yang bukan mahramnya dan tidak ada orang ketiga bersamanya. Khalwat adalah perkara yang diharamkan, sebagaimana yang ditunjukkan oleh dalil-dalil diantaranya adalah sebagai berikut :

 

1. Rasulullah saw bersabda:

“Hati-hati kalian terhadap masuk (bertemu) dengan para perempuan. Maka berkata seorang lelaki dari Anshar: “Wahai Rasulullah bagaimana pendapatmu dengan Al Hamwu?” Beliau berkata: “Al Hamwu adalah maut.” (HR. Bukhari Muslim)

 

Menurut Imam Muslim: “Al Hamwu adalah saudara laki-laki suami dan yang serupa dengannya dari kerabat sang suami; Anak paman dan yang semisalnya.”

 

Imam Nawawi: “Sepakat ahli bahasa bahwa makna Al Hamwu adalah kerabat suami sang istri seperti bapaknya, Ibunya, saudara laki-lakinya, anak saudara laki-lakinya, anak pamannya dan yang semisalnya.”

 

Kemudian Imam An Nawawi berkata: “Dan yang diinginkan dengan Al Hamwu disini adalah kerabat suami selain bapak-bapaknya dan anak-anaknya. Adapun bapak-bapak dan anak-anaknya, mereka adalah mahram bagi istrinya, boleh bagi mereka ber-khalwat dengannya dan tidaklah mereka disifatkan sebagai maut.”

 

Adapun sabda Rasulullah saw: “Al Hamwu adalah maut,” ada beberapa penjelasan dari para ‘ulama tentang maksudnya:

(1) Maksudnya bahwa ber-khalwat dengan Al Hamwu akan mengantar kepada kehancuran agama seseorang yaitu dengan terjatuhnya ke dalam maksiat, atau mengantar kepada mati itu sendiri yaitu apabila ia melakukan maksiat dan mengakibatkan ia dihukum rajam, atau bisa kehancuran bagi perempuan itu sendiri yaitu ia akan diceraikan oleh suaminya bila sebab kecemburaannya.

(2) Berkata Ath Thobari: “Maknanya adalah seorang lelaki ber-khalwat dengan istri saudara laki-lakinya atau (istri) anak saudara laki-lakinya kedudukannya seperti kedudukan maut dan orang Arab mensifatkan sesuatu yang tidak baik dengan maut.”

(3) Ibnul ‘A’rabi menerangkan bahwa orang Arab kalau berkata: “Singa adalah maut” artinya berjumpa dengan singa adalah maut yaitu hati-hatilah kalian dari singa sebagaimana kalian hati-hati dari maut.

(4) Berkata pengarang Majma’ Al Gharâ’ib: “Yaitu tidak boleh seorangpun ber-khalwat dengannya kecuali maut.”

(5) Berkata Al Qodhi ‘Iyadh: “Maknanya bahwa ber-khalwat dengan Al Hamwu adalah pengantar kepada fitnah dan kebinasaan.”

(6) Berkata Al Qurthubi: “Maknanya bahwa masuknya kerabat suami (bertemu) dengan istrinya menyerupai maut dalam jeleknya dan rusaknya yaitu hal tersebut diharamkan (dan) dimaklumi pengharamannya.”

 

2. Rasulullah saw bersabda:

“Janganlah seorang laki-laki ber-khalwat dengan perempuan kecuali bersama mahramnya. Maka berdirilah seorang lelaki lalu berkata: “Wahai Rasulullah, istriku keluar untuk haji dan saya telah terdaftar di perang ini dan ini.” Beliau berkata: “Kembalilah engkau, kemudian berhajilah bersama istrimu.” (HR. Bukhari)

 

3. Rasulullah saw bersabda:

“Jangan sekali-kali seorang laki-laki bersendirian dengan perempuan karena yang ketiga bersama mereka adalah syaithan.” (HR. Tirmidzi)

 

4. Rasulullah saw bersabda:

“Janganlah seorang laki-laki bermalam di tempat seorang janda kecuali ia telah menjadi suaminya atau sebagai mahramnya.” (HR. Muslim)

 

5. Rasulullah saw bersabda:

“Perempuan itu adalah aurat, kalau dia keluar maka dibuat agung/indah oleh syaithan.” (HR At Tirmidzi)

 

Maka hindarilah berkhalwat atau hanya berdua-duaan dengan yang bukan muhrim , karena selain diharamkan juga membawa banyak kemudharatan sebagaimana telah disebutkan dalam larangan Rasulullah saw melaui hadistnya. Dan seharusnya bagi seorang muslim dan muslimah apabila Allah Ta’ala dan Rasul-Nya telah menetapkan suatu perkara, hendaknya bersikap tunduk dan patuh pada perintah-Nya sebagai aplikasi keimanan kepada-Nya, sebagaimana firman Allah SWT :


“Dan tidaklah patut bagi laki-laki yang mu’min dan tidak (pula) bagi perempuan yang mu’min, apabila Allah dan Rasul-Nya telah menetapkan suatu ketetapan, akan ada bagi mereka pilihan (yang lain) tentang urusan mereka.” (QS Al Ahzâb: 36)

 

sumber: mohon maaf sya cantumin nanti

28/11/14

Do'a Penutup

 A’uzubillahiminassyaitonirrajim, bismillahirrahmanirrahim.
Alhamdulillahirabbil ‘alamin, wassalatu wassalamu ‘ala asrofil anbiya iwal mursalin, wa ‘ala alihi wasohbihi rasulillahi ajma’in.

Ashadu ala ila ha illallah, wa ashadu anna muhammadar rasullullah. Allahumma sholli ‘ala muhammad, wa ‘ala ali muhammad. Kama sholaita ‘ala ibrohim, wa ‘ala ali ibrohim. Wabarik ‘ala muhammad, wa ‘ala ali muhammad. Kama barokta ‘ala ibrohim, wa ‘ala ali ibrohim. Fil ‘alamina innaka hamidun majid.

Allahumma innal muslimina wal muslimat, wal mu’minina wal mu’minat, al ahya imin hum wal amwat, birohmatika, ya ar hama rohimin.
Allahumma innaa nas’aluka salaamatan fid-diin, wa’afiyatan fil-jasadi, wa ziyaadatan fil-‘ilmi, wa barakatan fir-rizqi, wa taubatan qablal-mauut, wa rahmatan ‘indal-mauut, wa maghfiratam ba’dal-mauut, Allahumma hawwin’alainaa fii sakaraatil-mauut, wan-najaata minan-naar, wal-‘afwa ‘indal hisab.

Rabbanaa laa tuzigh quluubanaa ba’da idz hadaitanaa wahab lanaa min ladunka rahmatan innaka antal-wahab.

Rabbanaghfir lanaa wa li waalidiinaa wa li jamii’il-muslimiina wal-muslimaati wal-mu’miniina wal-mu’minaati al-ahyaa’I minhum wal-amwaat, innaka’alaa kulli sya’in qadiir.
Rabbanaa hab lanaa min azwajinaa wa dzurriyyaa-tinaa qyrrata a’yuniw waj’alnaa lil-muttaqiina imaamaa.


Robbana atina fiddunya hasanah, wafil akhiroti hasanah, waqina ‘aza bannar. Subhana robbika robbil ‘izati ‘amma yasifun, wassalamu ‘alal mursalim, walhamdulillahi rabbil ‘alamin.

05/06/14

Adab Tidur menurut Sunah Rasulullah SAW


Sesungguhnya tidur menghabiskan sepertiga dari umur seseorang jika ia tidur dalam sehari semalam delapan jam. Jika dia mampu mengikuti sunnah Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam ketika akan tidur, maka waktu tersebut dapat dimanfaatkan dalam rangka ibadah. Seorang yang pandai adalah seorang yang mampu menjadikan kebiasaannya menjadi amalan yang mendapatkan pahala.

Berikut beberapa sunnah Rasulullah terkait adab tidur.

 

1. Tidur di awal malam
Di antara tuntunan yang diajarkan oleh Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam adalah tidur di awal malam, berdasarkan hadits dari sahabat Abu Barzah radhiyallahu ‘anhu, beliau berkata:

“Adalah Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam membenci tidur sebelum shalat isya dan berbincang-bincang setelahnya (setelah shalat Isya’).” (HR. Al-Bukhari dan Muslim)
Al-Hafizh Ibnu Hajar Al-Asqalani mengatakan, “Hal itu karena tidur sebelum shalat Isya` akan menyebabkan ia tertidur sampai keluar dari waktu shalat Isya`. Sedangkan begadang setelah shalat Isya’ dapat menyebabkan tertidur hingga tidak melaksanakan shalat Shubuh, terlambat dari waktu shalat yang afdhal (utama), atau tidak bisa melaksanakan dari shalat malam.” (Fathul Bari Syarh Shahih Al-Bukhari)

Begadang di malam hari diperbolehkan jika ada maslahat (kebaikan)nya. Al-Imam Al-Bukhari meletakkan sebuah bab dalam kitab Shahih-nya dengan judul “Bab Begadang dalam rangka Menuntut Ilmu”.

2. Mencuci tangan dari kotoran

Syariat yang mulia ini mengajarkan kepada kita agar menjaga kebersihan, termasuk berkaitan dengan pembahasan kita tentang adab tidur. Rasulullah
bersabda,
“Barangsiapa yang tidur dan di tanganya ada ghomar yang tidak di basuh kemudian terjadi sesuatu yang tidak disukainya, maka janganlah mencela kecuali terhadap dirinya sendiri.” (HR. At-Tirmidzi, Abu Daud, dan Ibnu Majah, dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu)

Ghomar adalah kotoran dan bau tak sedap pada tangan saat setelah makan.

3. Berwudhu’ sebelum tidur

Disunnahkan berwudhu’ bagi seorang muslim yang hendak tidur. Tata caranya sama seperti tata cara wudhu’ sebelum shalat. Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda sebagaimana dalam hadits yang diriwayatkan oleh sahabat Al-Bara’ bin Azib radhiyallahu ‘anhu:
“Jika engkau hendak menuju ke tempat pembaringan, maka berwudhu’lah sebagaimana engkau berwudhu’ untuk shalat.” (HR. Al-Bukhari dan Muslim)

Berwudhu sebelum tidur, hal ini bertujuan agar setiap muslim bermalam dalam keadaan suci, sehingga bila ajalnya datang menjemput diapun dalam keadaan suci. Dan sunnah ini menggambarkan bentuk kesiapan seorang muslim untuk memenuhi panggilan kematian dalam keadaan suci hatinya. Dan jelas bahwa kesucian hati lebih diutamakan daripada kesucian badan. Dan sunnah ini juga akan mengarahkan pada mimpi yang baik dan menjauhkan diri dari permainan setan yang akan menimpanya. (Lih. Fathul Bari, 11/125 dan Syarah Shahih Muslim, 9/32)

Adapun keutamaan wudhu, maka salah satunya adalah hadits berikut,

Dari shahabat Abu Hurairah, bahwasanya Rasulullah shalallahu 'alaihi wasallam bersabda:
"Apabila seorang muslim atau mukmin berwudhu' kemudian mencuci wajahnya, maka akan keluar dari wajahnya tersebut setiap dosa pandangan yang dilakukan kedua matanya bersama air wudhu' atau bersama akhir tetesan air wudhu'. Apabila ia mencuci kedua tangannya, maka akan keluar setiap dosa yang dilakukan kedua tangannya tersebut bersama air wudhu' atau bersama akhir tetesan air wudhu'. Apabila ia mencuci kedua kaki, maka akan keluar setiap dosa yang disebabkan langkah kedua kakinya bersama air wudhu' atau bersama tetesan akhir air wudhu', hingga ia selesai dari wudhu'nya dalam keadaan suci dan bersih dari dosa-dosa." (HR Muslim no. 244).

Alhamdulillah… sebuah rahmat dan kasih sayang yang sangat besar yang diberikan Allah kepada para hamba-Nya.

Adapun jika kita hendak tidur dalam keadaan junub dan belum berkesempatan untuk mandi janabah, maka cukup bagi kita dengan berwudhu’ sebelum tidur sebagaimana jawaban Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam terhadap pertanyaan Umar bin Al-Khaththab radhiyallahu ‘anhu:

“Bolehkah salah seorang di antara kami tidur ketika ia dalam keadaan junub?” Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam menjawab: “Ya, jika salah seorang di antara kalian telah berwudhu’, maka ia boleh tidur walaupun sedang junub.” (HR. Al-Bukhari dan Muslim)

4. Membersihkan (dengan cara mengibas/menebah) tempat tidur sambil membaca basmalah

Di antara tuntunan Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bagi seseorang yang hendak tidur adalah membersihkan (mengibas/menebah) tempat tidurnya (dengan menggunakan kain atau yang selainnya) sambil membaca basmalah. Hal ini berdasarkan hadits:

“Jika salah seorang dari kalian hendak berbaring di tempat tidurnya hendaklah dia mengambil kainnya dan mengibas-ngibaskannya ke tempat tidurnya dengan membaca basmalah.” (HR. Al-Bukhari dan Muslim dari sahabat Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu)

5. Larangan tidur bertelungkup

Dari Thikhfah Al-Ghifari radhiyallahu ‘anhu beliau berkata: “Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah menjumpaiku dalam keadaan tidur tertelungkup di masjid, maka beliau menggerakkanku dengan kakinya seraya bersabda: “Mengapa engkau tidur seperti ini? Ini adalah posisi tidur yang dibenci atau dimurkai Allah.” (HR. Ibnu Majah, dishahihkan oleh Asy-Syaikh Al-Albani rahimahullah)

6. Tidur di atas Lambung Sebelah Kanan

Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:
“lalu tidurlah di atas lambungmu yang kanan.”
(HR. Al-Bukhari no. 6311 dan Muslim no. 2710)

Sebagian menjelaskan bahwa hikmah yang terkandung dalam bimbingan Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam untuk tidur di atas lambung kanan adalah lebih cepat untuk terjaga (bangun agar bisa shalat malam), jantung bergantung ke arah sebelah kanan sehingga tidak menjadi berat bila ketika tidur.

7. Meletakkan Tangan di Bawah Pipi

Tata cara ini dijelaskan oleh Hudzaifah ibnul Yaman radhiallahu ‘anhu:

“Adalah Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam apabila beliau tidur di malam hari, beliau meletakkan tangan beliau di bawah pipi.”
(HR. Al-Bukhari no. 6314)

8. Berdoa Sebelum Tidur

“Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam apabila akan tidur beliau berdoa:
اللَّهُمَّ بِاسْمِكَ أَحْيَا وَبِاسْمِكَ أَمُوتُ
‘Ya Allah, dengan menyebut nama-Mu aku hidup dan dengan menyebut namamu aku mati.”
(HR. Muslim (no. 2711) dan Ahmad (no.17862))

Dalam Lafadz lainnya: اللَّهُمَّ بِاسْمِكَ أَمُوْتُ وَأَحْيَا

Ya Allah, dengan menyebut nama-Mu aku mati dan aku hidup.

(Doa tersebut silahkan dicopy-paste di wordpad/notepad untuk memperjelas. Adapun di word office, terkadang mengalami perubahan susunan text arabic.)

9. Membaca Dzikir-dzikir Tidur

a. “Dari ‘Aisyah, bahwa Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam apabila menuju tempat pembaringan pada setiap malam, beliau menghimpun kedua telapak tangan beliau kemudian meniupnya dan membaca Qul Huwallahu Ahad dan Qul A’udzubirabbil Falaq dan Qul A’udzubi Rabbi An-Nas kemudian dia mengusap seluruh tubuh beliau, dan beliau memulai dari kepala kemudian wajah dan bagian depan jasad dan beliau lakukan hal itu tiga kali.”
(HR. Abu Dawud. Dishahihkan oleh Asy-Syaikh Al-Albani rahimahullah dalam kitab Shahih Sunan Abu Dawud no. 4228)

b. Membaca takbir, tahmid dan tasbih.
Ibnu Abi Laila berkata: “‘Ali telah menceritakan kepadaku bahwa Fathimah mengeluhkan apa yang beliau dapati (berupa bekas pada tangan beliau) karena menumbuk (tepung). Kemudian dibawakan kepada Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam seorang tawanan dan aku segera mendatangi Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam. Akan tetapi aku tidak menjumpainya dan beliau menjumpai ‘Aisyah lalu Fathimah menceritakan (hajatnya) kepada ‘Aisyah.

Ketika Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam datang, ‘Aisyah memberitahukan tentang kedatangan Fathimah kemudian Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam mendatangi kami sedangkan kami telah tidur. Lalu aku berusaha bangun, beliau berkata: “Tetaplah kalian di tempat kalian.” Lalu beliau duduk di antara kami, dan aku (kata Fathimah) merasakan dingin kedua kaki beliau yang diletakkannya di atas dadaku dan beliau bersabda: “Maukah aku ajarkan kepada kalian sesuatu yang lebih baik dari apa yang kalian minta kepadaku yaitu bila kalian akan tidur bertakbirlah 34 kali, bertasbih 33 kali, dan bertahmid 33 kali lebih baik bagi kalian dari pada memiliki pembantu.

09/05/14

Membiasakan Berbuat Baik

Assalamu'alaikum wr. wb

Dalam suatu hadits qudsi, Allah SWT berfirman 
“Jikalau seseorang hamba itu mendekat padaKu sejengkal, maka Aku mendekat padanya sehasta dan jikalau ia mendekal padaKu sehasta, maka Aku mendekat padanya sedepa. Jikalau hamba itu mendatangi Aku dengan berjalan, maka Aku mendatanginya dengan bergegas.” (HR. Bukhari)

Didalam melihat jalan hidup masyarakat di sekitar kita, bisa kita lihat bahwa beberapa orang mempunyai kecenderungan tertentu. Orang yang terbiasa berbuat maksiyat, maka dari hari kehari dia akan semakin terjerumus kedalam lembah yang hitam. Sebaliknya orang yang suka sholat berjamaah ke masjid, maka dia akan ramah ke tetangganya, rutin berinfaq dan bahagia kehidupan keluarganya.

Semakin seseorang memperbanyak dan membiasakan berbuat baik, maka semakin banyak terbuka pintu-pintu kebaikan yang lain. Hal ini sesuai dengan hadits qudsi diatas bahwa semakin tinggi intensitas dan kualitas ibadah kita kepada Allah SWT maka semakin dekatlah kita dengan-Nya.

Salah satu kunci kesuksesan hidup kita adalah bagaimana kita membiasakan berbuat baik. Semakin kita terbiasa berbuat baik, maka semakin mudah jalan kita untuk mencapai kebahagiaan hidup. Agar manusia terbiasa beribadah, maka beberapa ibadah dilakukan berulang dalam kurun waktu tertentu seperti sholat lima kali dalam sehari, puasa sunnah dua kali seminggu dan sholat jum’at sekali sepekan.

Permasalahan awal yang biasanya ditemukan dalam melakukan sesuatu yaitu dalam memulainya. Memulai suatu aktifitas terkadang lebih berat dibandingkan ketika melaksanakannya. Maka ketika kita mendorong mobil yang mogok, akan diperlukan tenaga yang besar saat sebelum mobil bergerak. Setelah mobil tersesebut bergerak, diperlukan daya dorong yang kecil. Ada juga sifat kita yang menunda perbuatan baik, padahal perbuakan baik janganlah ditunda. Kalau kita ada keinginan untuk menunda, maka tundalah untuk menunda. Hal ini seperti yang disampaikan Rasulullah saw:

“Bersegeralah untuk beramal, jangan menundanya hingga datang tujuh perkara. Apakah akan terus kamu tunda untuk beramal kecuali jika sudah datang: kemiskinan yang membuatmu lupa, kekayaan yang membuatmu berbuat melebihi batas, sakit yang merusakmu, usia lanjut yang membuatmu pikun, kematian yang tiba-tiba menjemputmu, dajjal, suatu perkara gaib terburuk yang ditunggu, saat kiamat, saat bencana yang lebih dahsyat dan siksanya yang amat pedih.” (HR. Tirmidzi)

Salah satu cara untuk mempermudah kita dalam memulai suatu amal ibadah adalah dengan mengetahui akan besarnya manfaat yang akan dirasakan. Segala hambatan atau godaan untuk tidak melaksanakan kebaikan tersebut akan bisa dilewatkan dengan keyakinan yang kuat. Oleh sebab itu, kita wajib untuk mencari ilmu tentang fadhilah (kelebihan) dari suatu amalan atau ibadah. Bahkan untuk menguatkan hati, kita juga perlu mencari ilmu secara berulang kali. Bahkan beberapa pengulangan dalam Al Quran digunakan agar manusia semakin ingat.


“Dan sesungguhnya dalam Al Quran ini Kami telah ulang-ulangi (peringatan-peringatan), agar mereka selalu ingat. Dan ulangan peringatan itu tidak lain hanyalah menambah mereka lari.” (QS. Al Israa’ 41)

Jadi, mulailah perbuatan baik yang ingin anda lakukan sekarang dan jangan ditunda. Kalau belum yakin, perluas dan perdalam ilmu agar kita semakin yakin.
Wallahu a’lam bish showab.
wassalamu'alaikum wr. wb.


30/04/14

Tiga cara Allah SWT Mengawasi

Assalamu’alaikum wr. Wb.
Puji syukur kita panjatkan kehadirat Allah SWT, yang telah memberikan rahmat serta hidayahnya kepada kita. Salawat serta salam tetap tercurahkan kepada junjungan nabi besar nabi Muhammad saw, serta kepada keluarga dan sahabatnya dan kita sekalian sebagai umatnya.

Pada kultum kali ini, saya akan mencoba membahas mengenai :

Masalah lingkungan sekitar;

Karena takut didatangi pencuri, maka warga suatu perumahan menyewa penjaga atau hansip. Tetapi terkadang pencurian masih terjadi walau hansip sudah dibayar. Hal ini bisa terjadi bila hansip tersebut lengah atau ketiduran, sehingga si pencuri bisa melakukan aksinya. Hansip juga manusia!
Bagaimana dengan Yang Maha Mengetahui? Allah SWT mengawasi manusia 24 jam sehari atau setiap detik tidak ada lengah. Didalam melakukan pengawasan, ada 3 cara yang dilakukan Allah SWT:
1
Allah SWT melakukan pengawasan secara langsung. Tidak tanggung-tanggung, Yang Menciptakan kita selalu bersama dengan kita dimanapun dan kapanpun saja. Bila kita bertiga, maka Dia yang keempat. Bila kita berlima, maka Dia yang keenam (QS. Al Mujadilah 7). Bahkan Allah SWT teramat dekat dengan kita yaitu lebih dekat dari urat leher kita. 

“Dan Kami lebih dekat kepadanya daripada urat lehernya.” (QS. Qaaf 16)
2
Allah SWT melakukan pengawasan melalui malaikat.

“ketika dua orang malaikat mencatat amal perbuatannya, seorang duduk di sebelah kanan dan yang lain duduk di sebelah kiri.” (QS. Qaaf 17)

Kedua malaikat ini akan mencatat segala amal perbuatan kita yang baik maupun yang buruk; yang besar maupun yang kecil. Tidak ada yang tertinggal. Catatan tersebut kemudian dibukukan dan diserahkan kepada kita (QS. Al Kahfi 49).
3
Allah SWT melakukan pengawasan melalui diri kita sendiri. Ketika kelak nanti meninggal maka anggota tubuh kita seperti tangan dan kaki akan menjadi saksi bagi kita. Kita tidak akan memiliki kontrol terhadap anggota tubuh tersebut untuk memberikan kesaksian sebenarnya.

“Pada hari ini Kami tutup mulut mereka; dan berkatalah kepada Kami tangan mereka dan memberi kesaksianlah kaki mereka terhadap apa yang dahulu mereka usahakan.” (QS. Yaasiin 65)

Kesimpulannya, kita hidup tidak akan bisa terlepas dimanapun dan kapanpun saja dari pengawasan Allah SWT. Tidak ada waktu untuk berbuat maksiyat. Tidak ada tempat untuk mengingkari Allah SWT. Yakinlah bahwa perbuatan sekecil apapun akan tercatat dan akan dipertanyakan oleh Allah SWT dihari perhitungan kelak.
Wallahu a’lam bish showab.

Wassalamu’alaikum Wr. Wb.

diolah dari ceramah ust. Zaki